PROFIL Pondok Pesantren Mamba'u Syafa'atil Qur'an
Gedung pondok yang refresentatif Suasana setoran santri putra Suasana setoran santri putri Ponpes juga membekali keterampilan (bertani) para santri Kyai Ali, Pengasuh Pondok Ngegong

Pondok Pesantren Mamba’u Syafa’atil Qur’an, Menjaga Kemurnian Al Qur’an Ditengah Arus Globalisasi

  

Seperti kebanyakan didaerah lain, Pondok Pesantren Mamba’u Syafa’atil Qur’an juga lebih dikenal dengan nama dimana lokasi Ponpes itu berada. Di Bumi Bung Karno ini PP Mamba’u Syafa’atil Qur’an lebih populer disebut dengan Pondok Ngegong. Berdiri pada Tahun 1987, Ponpes ini berada di Kelurahan Gedog Lingkungan Ngegong, Kecamatan Sananwetan - Kota Blitar.

 

Pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mamba’u Syafa’atil Qur’an adalah KH. Ali Wafa. Al Hafidz yang pada masa mudanya merupakan santri dari Pondok Pesantren Syafa’atil Qur’an Langlang, Singosari – Malang yang kemudian melanjutkan masa belajarnya dengan tabaruq-kan kepada KH. Arwani di Pondok Pesantren Yambu’ul Qur’an, Kudus - Jawa Tengah.

 

PP Mamba’u Syafa’atil Qur’an boleh dikatakan masih muda dibandingkan umur Ponpes lain yang ada di Kota Blitar. Namun, tinta emas yang telah berhasil mereka goreskan didalam hasanah kehidupan beragama di Kota Blitar membuat semua mata memandang kagum. Semua orang berbicara tentang prestasi gemilang yang telah mereka ciptakan melaluai berbagai event khususnya MTQ, baik ditingkat lokal maupun nasional. Sehingga tidaklah mengherankan apabila Ponpes ini selalu berada dibarisan depan dalam Syi’ar Islam di Kota Blitar.

 

Salah satu yang bisa diapungkan, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir sejak Tahun 2006 PP Mamba’u Syafa’atil Qur’an selalu menjadi Juara Umum setiap kali digelar MTQ Tingkat Kota Blitar. Belum lagi ketika event sejenis di tingkat provinsi, Pondok Ngegong selalu menjadi penyumbang terbanyak kafilah asal Kota Blitar. Kiprah Pondok Ngegong di pentas nasional pun sudah terbukti manakala salah satu santrinya yang bernama Shohib Abidin menjadi Juara III MTQ Tingkat Nasional di Bengkulu Tahun 2008.

 

PP Mamba’u Syafa’atil Qur’an merupakan pencetak generasi-generasi yang mencintai Al Qur’an. Para haffidz dan haffidzoh, insan-insan yang sedang berusaha mengikat kalam-kalam Allah dalam setiap denyut nadi mereka. Selain santri lokal, banyak pula yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Diantaranya ada yang datang dari Bangil, Ponorogo, Bojonegoro, Banyuwangi, Madura hingga pulau Kalimantan.

 

Santri laki-laki menempati bangunan utama pondok pesantren yang berada disamping masjid pondok, sedangkan santri perempuan tinggal di bangunan pondok pesantren putri yang letaknya berdampingan dengan (ndalem) kediaman KH. Ali Wafa.

 

Dan dalam perkembangannya saat ini, fasilitas yang ada sudah cukup memadai bagi banyak kegiatan santri-santrinya. PP Mamba’u Syafa’atil Qur’an memiliki masjid yang cukup besar dan megah. Bilik-bilik untuk santri mukim yang memadai, toilet, taman, dapur dan toko koperasi yang cukup bagus, serta pendopo teras yang berfungsi sebagai tempat mengaji sekaligus balai pertemuan yang representatif. Sehingga tidaklah mengherankan meskipun dengan jadwal kegiatan yang padat para santri tetap betah belajar disana.

 

Setiap saat disudut-sudut pondok selalu terlihat para santri yang sedang menghafal Al Qur’an. Ada yang melakukannya dengan menyendiri di dalam bilik, ada pula yang mengerjakannya dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Dalam kelompok kecil ini, seorang santri membacakan hafalannya, sedangkan santri yang lain menyimak atau biasa diistilahkan muratal bi tahfidz.

 

 

Pada waktu tertentu setiap santri wajib menunjukan hafalannya dalam sehari kepada pengasuh pondok yang diistilahkan dengan setoran. Rutinitas setoran dilakukan usai Shalat Subuh berjama’ah, dimulai dari santri laki-laki dalam kelompok kecil yang biasanya terdiri dari empat santri secara bersamaan kemudian diulangi lagi ba’da Shalat Ashar kecuali pada hari Jum’at.

 

Dan untuk tetap menjaga kemurnian kalam-kalam Allah, PP Mamba’u Syafa’atil Qur’an mewajibkan santrinya untuk mengkuti kegiatan muratal binadzor yang dilaksanakan setiap malam Kamis. Para santri didampingi oleh pengasuh secara bergiliran membaca Al Qur’an ayat demi ayat. Selain bertujuan untuk melatih dan menjaga makhroj dan sifat dari ayat-ayat Al Qur’an, juga agar sesuai dengan kaidah dan gramatikal yang benar sekaligus sebagai wahana penerapan ilmu tajwid.

 

Dalam menjaga keutuhan hafalan ayat-ayat Al Qur’an pula, dilakukan sema’an bil ghoib. Dengan Al Qur’an Rasm Usmani atau Qur’an Kudus yang jumlah ayat perhalamannya sama, seorang santri membacakan hafalannya per halaman. Penghafal disimak oleh tiga santri yang lain, dengan harapan ayat yang telah dihafal tidak ada yang terselip baik ayat, huruf maupun dzomir-nya.

 

Bagi para santri yang bermukim disana, sejak kecil mereka diwajibkan mengikuti Madrasah Diniyah. Madin di pondok ini dilaksanakan setiap sore setelah setoran sampai menjelang waktu shalat Maghrib. Madrasah Diniyah yang dikembangkan, diharapkan mampu menjadikan para santri selain menghafal Al qur’an juga paham tentang ilmu-ilmu agama terutama tentang tauhid dan fiqh.

 

Sedangkan bagi para santri senior yang masih tetap bermukim, KH. Ali Wafa mengharuskan mereka untuk mendalami kitab-kitab salaf untuk meningkatkan pemahanan agama dan isi kandungan Al Qur’an. Beberapa kitab yang dipelajari antara lain Tafsir Jalalain, Tibyan ‘Ala Hamalatil Qur’an dan Al Itqon dan Fathul Qorib.

 

Di pondok pesantren ini juga dilaksanakan kegiatan Jam’iyah Shalawat Dibaiyah rutin ba’da Isya’ setiap malam Senin. Selain sebagai upaya untuk mengharapkan syafa’at dari Nabi Muhammad S.A.W juga merupakan sebuah perwujudan kecintaan kita kepada rasul Allah. Sedangkan kata beberapa santri, “Kegiatan ini selain mampu memberikan hiburan juga sekaligus sebagai media untuk menghilangkan kejenuhan dalam menghafal Al Qur’an tetapi tetap mempunyai nilai ibadah.”.

 

Dan berpikir jauh kedepan akan bekal hidup duniawi para santrinya, KH. Ali Wafa berulang kali mengingatkan kepada para santrinya agar terus belajar dan berusaha menciptakan lapangan pekerjaan. Bukan untuk mencari pekerjaan. Prinsip ini didasari oleh pemikiran agar santri-santrinya bisa lebih berkonsentrasi dalam mengaji daripada memikirkan persaingan dunia kerja yang kian berat.

 

Untuk itu pula PP Mamba’u Syafa’atil Qur’an telah menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain untuk membekali ketrampilan kepada para santri jika pada saatnya nanti mereka harus kembali kemasyarakat. Berbagai bidang pekerjaan telah dikembangkan.

 

 

Bagi mereka yang suka bertani, KH. Ali Wafa menyediakan lahan sawah keluarga sebagai lahan untuk belajar. Untuk santri yang suka beternak ikan, disediakan beberapa kolam ikan untuk wahana praktek. Sedangkan bagi mereka yang mempunyai jiwa dagang, Ponpes juga menyediakan toko untuk menyalurkan minat dagang santri-santrinya. *moza